drabble *hah*



 Our  Very First Class Outing !

dan itu ada yang nostalgia jadi ninja. mungkin dulunya dia ninja, atau mungkin jiwa dia terjebak di masjid. bisa pilih salah satu.



Time flows, and so does ujian. Tau – tau parade ujian selesai – pengennya sih lempar toga kalau udah kayak gini. Tapi pertama, kita bukan lulus tapi selesai ujian, kedua kita nggak punya toga. Akhirnya diputuskanlah untuk liburan bareng – 

Karena udah menjelang ulangtahun Naila, orang – orang pada ngedorong Naila untuk nyewa villa. Bercanda sih. Hahah. Tapi tau – tau beneran deh kita dikasih villa. Tapi bukan villa Naila. Villanya Ijey.

Tau – tau *yah ga tau – tau juga sih. Setelah melewati sesi nari - nari pas ngumpul di luar kota asih putera, lima mangkok ramen, dan ngumpul di lantai 3* jadilah kita semua menjalani semacam holiday session setelah dirajam stress ujian *padahal habis itu tuh kita mau ujian lagi* 

Ke villa yang terletak entah dimana di Lembang *yap, saya akui, saya bukan GPS lagi*, memakan waktu sekitar dua jam, plus panik gara2 mobilnya nggak bisa nyala di pom bensin, plus diemnya hebron gara2 dia harus nyetir mobil yang ga dia biasa bawa, plus kepanikan gara2 tau kita mau nanjak tapi mobilnya otomatis yang berusaha diredam, dan plus makan keripik pedes didalam mobil thanks to keberadaan ketua geng kripik : Naila. Oh ya, dan plus lagi : teriak teriak sama Asa. 

Jadi ceritanya entah bagaimana Asa yang di planning awal harusnya di mobil bersama kami semua, berakhir bawa motor ke Lembang, nekat nggak pake jaket. Mungkin dia belum tahu kalau sebenarnya pergi ke Lembang itu ibarat pergi ke utara Kanada, atau mungkin dia itu saudaranya Jacob jadi suhu tubuhnya tuh panas terus, dan tidak pakai jaketlah dia. Kayaknya di tengah jalan dia baru tersadar kalau dunia ini tuh sebenarnya dingin, dan teriak – teriaklah dia minta jaket. Pada siapa ? pada yang didalam mobil – itu adalah scariest moment than embarassing moment. Mungkin kalau hebron ga sadar diri, hebron bakalan tancap gas dan jauh meninggalkan Asa dibelakang. Habisnya Asa teriak – teriak tanpa menghiraukan apa yang ada disekitarnya. Dia nggak peduli kalau kita lagi turun gunung, yang berarti jalannya penuh tikungan *kayak ipa 1 –eh* dan ada bapak – bapak disebelahnya yang kayaknya syok banget melihat Asa. 

Well at the end, asa melakukan aksi akrobatik dengan nikung mobil sambil menerima jaket yang dilempar dari dalam mobil. 

By the way akhirnya kita nyampe, bingung karena dede meong ilang *katanya nyasar sampai subang. Katanya loh ya . katanya*, nonton channel shopping, dimana setiap channel itu punya channel shopping sampai lima, nonton spac*to*n channel yang kayaknya lagi dibajak sama Psy jadi sepanjang hari acaranya Cuma satu : Gangnam Style. sok sok-an jadi Poseidon dan cowo – cowo jadi atlet lompat indah mendadak di pemandian Sari Ater, ngadain Barbeque Party *ceritanya*
 
sambil tuker kado dan dihantui oleh patung ayam yang butuh waktu lama sebelum kami menyadari bahwa sesungguhnya itu bukan patung ayam tapi ayam asli 
*meskipun saya lebih yakin kalau ayam itu sebenarnya mata – mata rahasia yang tugasnya memantau kami semua supaya ga aneh – aneh di villa ini yang saya yakin sesungguhnya adalah markas ufo*








Sanra menyebarkan do-it-yourself- judi oplosan *tanpa uang. Tanpa taruhan.*, lima ronde main uno dengan mas zaki bikin aliansi sama inqi,  faisal irfan entah bagaimana kekunci di kamar mandi dan andri Cuma terdiam disana, tertawa, dan pergi ke Tangkuban Perahu. Dan tau – tau udah harus pulang lagi dengan paivan bawa bonsai diskon dari 80rb jadi 304b. haha.




*bener kan. bisa jadi base sebenernya waktu itu kami berlibur di base ufo*

Intinya, liburan itu memorial banget. Tapi ada  beberapa hal yang hardly washed away from my brain misalnya : jadi penyelundup ilegal di nikahan seseorang. 

Jadi ceritanya sore hari itu sehabis makan siang *yang makan siangnya diprovide oleh Naila* kita punya semacam free time atau apalah. Kebanyakan dari kami pergi jalan – jalan dalam beberapa rombongan. I decided to join Aji’s, and shortly after, i regret that decision haha. 

Rombongannya Aji tuh isinya Aji, Oliv, Naila, and Me. Awalnya kita Cuma keluar aja mau jalan2. Tapi mata Naila yang setajam elang menemukan janur di ujung jalan, dan dia mempunyai ide brilian : 

“ayo kita makan gratis.” 


Jadi kami berakhir dengan membeli amplop di warung, memasukkan uang 2000 rupiah kedalam amplop, dan berjalan like a boss ke itu undangan. Ga sadar diri momen adalah ketika kami berjalan ke tempat undangan itu selayaknya tamu undangan dengan memakai piyama. Seriously. Most of us udah ganti baju pake baju piyama / baju tidur / baju rumah apalah itu namanya. 

Dalam perjalanan kesana, saya mundur karena tidak sanggup menahan detak jantung yang mendadak naik gara2 gugup luar biasa. Habisnya itu udah kayak mau nyebrang perbatasan Indonesia – Malaysia tanpa bawa paspor, tiket, uang, dan visa. 

Akhirnya rombongan itu pergi meninggalkan saya menuju tujuannya. Beberapa puluh menit kemudian, i decided to pergi menyusul mereka. Perjalanannya itu ternyata jauh banget ga kira – kira. Ternyata oh ternyata kami malah bertemu dengan rombongan yang lain, dan rombongan makan gratis itu pun mengalami mental breakdown saat udah didepan pintu undangan dan memutuskan untuk mundur. Amplop duaribu itu pun disobek supaya kita bisa ambil uangnya dan jajan. Dan yah, one of us merobek amplopnya, beserta isinya. 

Pulangnya, thanks to Naila dan Aji, we end up numpang ke some kind of mobil pick up – diliatin orang2 sepanjang jalan. Lupalah kami kalo ternyata ini bukan Cihanjuang.

People ayo kita liburan lagi :) kemana gitu -- *ps cari yang gratisan lagi guys haha*  

Re-read : Harry Potter and The Sorcerer Stone




I love Harry Potter movies. So much. I even cried when i know kalau this series will come to an end. Tapi sesungguhnya, saya tak pernah membaca bukunya, tidak sampai saya SMA.
Iya sih itu udah telat banget. Kebangetan. Dan semua orang juga tahu : nggak akan asik kalo Cuma nonton film Harry Potter aja. Kalau nonton aja dan nggak baca bukunya, itu ibarat kayak lebaran tanpa rendang *iya oke. Skip* 

Tapi saya tak menyesal baca harry potter series ketika saya sudah uzur *?* mengapa oh mengapa, karena pada usia SMA english saya sudah capable untuk membantu saya melahap Harry Potter series dalam bahasa aslinya

Seriously, nothing beat membaca harry potter dalam bahasa aslinya, bahasa inggris. Rasanya lebih real, lebih nyata. Not that i not enjoyed harry potter series dalam bahasa indonesia. Itu juga saya suka, tapi membaca harry potter dalam bahasa aslinya punya feel dan pride tersendiri. 

Anyway oh anyway itu sudah lama sekali terjadi. Mungkin waktu saya kelas 11. Itu lagi euforia Harry Potter banget. Lagi heboh – hebohnya series potter akan berakhir. Akhirnya sesuatu mendorong saya untuk membaca ini series. 

Jadi dalam waktu sebulan, saya tamatkan itu harry potter series, tujuh – tujuhnya saya baca sampai puyang. Tak peduli bahwa itu sebenarnya dua bulan menjelang ujian – my record adalah Harry Potter and The Deathly Hallows yang niat banget saya habiskan dalam waktu semalam *cough uh*. Ga semalam juga sih – i remember saya mulai baca around 8, dan baru tidur jam setengah tujuh pagi. Dan malam harinya, saya ulang lagi Deathly Hallows begitu sadar habis itu ga ada lagi Harry Potter yang bisa saya baca. Dan sekedar baca : All was well, itu mencelos banget dihati. Semua kematian, semua peristiwa, semua sihir, semua penyiksaan, semua kekeluargaan, semua cinta *well seriously, Potter series berintikan : cinta* itu hanya ditutup dengan tiga kata : All was well. 

Well then sekarang bulan Ramadhan, dan tiap ramadhan dalam hidup saya selalu tersedia waktu kosong 30 menit terakhir menjelang buka puasa. Dont know how but it just happenned each year. Dan this year, i decided kalau 30 menit itu akan menyenangkan kalau saya spend untuk re-read harry potter series *iya bukannya baca quran* 

Jadi saya buka lagi Harry Potter and The Sorcerer Stones. Dan menjelang beberapa halaman terakhir, saya baru kepikiran untuk menulis tentang pengalaman saya membaca Harry Potter series *sigh* 

Intinya, meskipun HP pertama terbit 14 tahun yang lalu, meskipun saya sudah membaca HP 1 berkali – kali, tetap aja feelingnya sama. 

Kesel ga ketulungan sama keluarga Dursley, degdegan waktu Harry dan Malfoy nemu jenazah unicorn, excited waktu Harry dapat snitch.. semuanya masih sama. I think itulah keajaiban dari JK Rowling. 

Anyway, i want to share some of my favorite quotes and favorite moments from the book that doesnt made it to the movie. Tapi karena saya baru kepikiran mau menulis tentang my Harry Potter reading experience ketika sudah sampai di halaman – halaman terakhir, saya hanya bisa menuliskan beberapa. 

Goyle, who was almost as stupid as he was mean, might be thrown out, but he had passed, too. It was a shame, but as Ron said, you couldnt have everything in life – Harry on final exam results 

You know, the Stone was really not such a wonderful thing. As much money and life as you could want! The two things most human beings would choose above all – the troble is, humans do have a knack of choosing precisely those things that are worst for them ----- Dumbledore to Harry 

And i have to say, after re-reading harry potter, my respect towards Nicolas and Perenelle Flamel boost up. I mean, mungkin Flamel hanya sekedar nama di film, tapi di buku, meskipun ia hanya disebut kurang dari 10x, tapi amazement yang diciptakan gara – gara kata – kata Dumbledore kalau Flamel akan merelakan hancurnya batu itu, its really something. After all, not everyone will letting go extra 600 yrs life easily. 

My favorite moments that i will loved if it make to the movie.. hmhmhm.. well.. ketika Severus Snape jadi wasit Quidditch antara Hufflepuff dan Gryffindor – yeah mungkin di adegan itu akan keliatan banget nastynya Snape – but who doesnt want to see Severus Snape on the broom ? – 

And momen di awal ketika Dumbledore makan permen lemon dan menawarkannya pada McGonaggal. Iya, iya ,mungkin itu sederhana. But i really want to see Dumbledore eating lemon drops

Well now i’m on book two – dan sekarang aku lagi merasakan kebencian yang teramat dalam terhadap Gilderoy Lockhart. – dia menyebalkan dalam movie, tapi dia dua juta kali lebih menyebalkan di buku – i mean, seriously, kenapa dia confident sekali soal keberadaannya yang dia anggap menguntungkan orang – orang disekitarnya – hah seriously. 

  

12 IPA 1 a.k.a. Avogadro Rapids pt II : Ga Bisa Move On


Waktu aku baru banget menjabat sebagai fresh graduate dari Junior High School, seorang guru kebesaran *literally dan unliterally* di MTs pernah bilang : “Masa SMP itu nggak akan terlupakan, tapi masa SMA itu paling rame.” 

And when i heard that, my first reaction is : what the.. 

Yah saat – saat itu bisa dibilang aku lagi kejatuhan. Nilai turun, sosialiasi turun, yaah you know lah. Sometimes di masa – masa itu, i just wondering : kenapa saya harus pergi sekolah kalau saya bisa mendapat nilai yang sama dengan disekolah ketika belajar dirumah ? 

Iya intinya saat itu saya terkena semacam depresi atau apalah. ¾ dari diri saya menginginkan homeschooling sebagai jalur sekolah saya saat itu. but now im so grateful that my parents did not menuruti keinginan saya. Karena sekarang saya menyadari kalau orang seperti saya yang bisa dibilang sedikit anti-sosial harus berada di lingkungan sosial supaya menjadi pro-sosial *Sekilas info* 

Nah sekarang ketika udah lulus dari SMA, barulah kata – kata beliau menjadi : iya banget. Masa – masa SMA itu emang paling rame dan paling ga bisa dilupain. Dan bikin ga bisa move on. Konon katanya, Inilah katanya penyakit para mahasiswa dua tahun pertama : ga bisa move on dari SMA. 

Dua alasan terbesar saya ga bisa move on dari tiga tahun ini adalah : IPA 2 dan IPA 1. Dua tahun terbaik dalam hidup saya ketika berada di lingkungan sosial yang mendukung seperti ini. tapi masa – masa selama menjadi 11 IPA 2 itu sudah dulu banget, dan memorinya sudah tergerus oleh waktu. Jadi, saya akan menceritakan sepenggal kisah berada di IPA 1 yang memorinya baru tergerus. Sedikit. 


Struktur Kelas yang Kemudian Terlupakan 

The most ridicoulus thing ever come to my mind saat pertama kali diberitahu akan berada di kelas 12 IPA 1 adalah : aku nggak mau dan nggak suka kelas ini karena jumlah murid kelas ini lebih banyak daripada kelas sebelah. Jadi ceritanya, seharusnya jumlah murid di dua kelas IPA itu pas 21 orang tiap kelas. Tapi tahun ini ada seorang anak baru (seharusnya dua, tapi yang satu masuknya ditengahtengahawal), dan ia ditempatkan di 12 IPA 1, otomatis jumlah 12 IPA 1 bertambah menjadi 22 orang, lebih banyak dari kelas sebelah. And that thing made me upset somehow, dont know why. 
(lol. But not i’m really grateful that new guy was on my class). 

Jadi dengan mindset kayak gitu, kesel ga karuan untuk suatu hal yang jelas – jelas absurd dan ga penting, aku memulai hari pertamaku di Avogadro Rapids. 

Mungkin, seharusnya aku nggak inget hari itu. karena itu udah jadul banget. Jaman kapan banget dan kemudian struktur hari itu terlupakan begitu saja. Tapi waktu aku melihat diary (baca : jurnal) dan ada kisah tentang hari pertama sekolah di kelas 12, ingatan tentang hari pertama ini muncul ke bagian depan kepala. 

Kejadiannya (thanks to my so called : journal) terjadi tanggal 28 Agustus 2012. Itulah hari pertama kelas 12 memulai pembelajaran setelah program sebulan yang disebut magang, itulah hari pertama Avogadro Rapids-to-be berkumpul. 

I started that day with such an ego : upset. Yah, upset karena ada anak baru dan ditempatkan dikelas ini jadi jumlah member kelas ini lebih banyak. 

Inilah diary – jurnal entry hari itu : ps. Ga perlu dibaca semuanya : 

So today we started the day with Class leader or whatsoever Election in the very first of the morning. Andri (who didnt attend school today), Naila, Hebron, and Falin was named –forcedly- as the candidates. Even before all the class speak up their votes, the chairman and vice chairman already elected : Andri and Naila. They won after quarter of the class vote for them. Disa was elected forcedly as the secretary, Falin as the Money Manager, and Habib suggest about having another position, such as Seksi Acara (Asa was named), PubDok (Habib elected), Sarana & Prasarana (say hi to the laptop, electro terminals, and electric fan – because Aji and Sule was elected !) i was elected as KK –Kamus Kelas- never heard about that before – but i believe after this, the questions about translating will be my friends everytime English mentioned. --- then there will be Rohis (the ones who lead the pray at the class), Security, and Class Cookers. Who know what will be the next ?

Then we should name our class  Mr. Ivan & Mrs. Erika’s 12 Grade. Hehe. We got them as our Wali kelas and Wali Mentor – i have no idea about this until they give us the first mentoring –somehow i still felt a little bit awkward towards them, but i believe it was only the matter of the time *time..* 

Today we had English, History, Physical Ed, Biology, and SDC (should be named Music since we’ll learn lot of music this term). I also sign up for Angklung today, but the schedule was overlapped with Traditional Dance – i have no idea till now about what should i do ? should i leave one of the activity ? but i really interested both. I want to do the dance, and i want to do the angklung – i’ll talk to Mr Yayat tomorrow, i hope the schedule wasnt that right – 

Cant wait for the next Tuesday ! i really love Tuesday ! there, my favorite subjects placed in one day. And i was really curious with the Music ! we’ll watch our performance that we perform for Ujian Akhir Semester, that performance who give me 90 for SDC ! can you believe that ? FIRST TIME EVER ! 90 ! 

I’ll try hard to get the marks this term 
 
Eventhough it will be really embarassing saw me dance that sorry, sorry – oh my god – i guess i’ll hide my head inside my bag when that day happen ! 

So that’s it ! whoaa i started this term with a very good mood ! extravagant mood ! i hope it will last till the end of the year and happened in the next year when i’ll attending the university – i hope i will – Amen  *can we write amen that way ?* 


Yah intinya sih ga usah dibaca semua. Baca aja paragraf satu karena itu yang paling penting. Kelewat penting malah, dan inti dari cerita ini, semuanya ada disitu. *huah the english.. aigoo bagaimana mungkin aku bisa menulis seperti itu* 

Jadi very first thing in that morning that we did adalah : pemilihan struktur kelas. 

Itu kayaknya wajib tiap tahun, atau mungkin tiap semester kalau mau repot. Jadi hari pertama itu yakin deh nggak akan belajar *kecuali kalau ada pelajaran kimia di hari pertama haha*. Pasti hari pertama itu akan so called kenalan dan pemilihan struktur kelas.

Untuk tahun ini, jadi intinya terjadilah pemilihan yang sangat tidak demokratis hahah karena nyaris seluruh pejabatnya dipilih secara paksa. Ketua kelasnya *harus* Andri dan wakilnya *harus* Naila. Jadi meskipun diadakan pemilihan yang  serepot apapun, mereka berdua yang harus jadi wakil dan ketua. 

Ceritanya diadakan pemilihan *yang berarti hanya formalitas belaka* dengan Andri, Naila, Hebron dan Falin sebagai kandidat wakil dan ketua kelas secara terpaksa. Yap, mereka semua terpaksa nurut waktu namanya ditulis di papan tulis. Bahkan Hebron sama Falin nggak nyadar nama mereka ditulis didepan untuk beberapa waktu. 

Jadi diambillah suara, dan udah jelas dari awal pemenangnya adalah Andri dan Naila. Even more ridicolous adalah, Andri nggak sekolah hari itu. Bahkan minggu itu kalau nggak salah. 

Typically, selain ketua dan wakil kelas, juga harus dipilihlah sekretaris dan bendahara bukan ? nah kalau di AsPut, setidaknya tahun itu, jadi sekretaris adalah kutukan sepanjang tahun. Gimana nggak ? tiap pagi harus ngambil buku absen dan agenda yang beratnya nyaris sama berat sama modul UN, dibawa – bawa seharian kemanapun pergi, meminta tandatangan guru di buku agenda setiap pelajaran, dan sore harinya dikumpulkan kembali ke ruang guru. Jabatan ini tuh bikin jadi artis ruang guru karena tiap pagi dan sore kerjaannya main ke ruang guru untuk ngambil ini buku dua. Belum lagi kalau nanti ternyata agenda dan buku absennya nggak diisi, yang pertama dicari guru pasti sang sekretaris. Dan saya turut berduka cita untuk Disa ketika dia sangat terpaksa menjadi sekretaris. 

Sedangkan yang terpilih jadi bendahara adalah Falin. Aku lupa apakah dia dipaksa juga jadi bendahara, atau ia terpaksa menjadi bendahara karena ia adalah calon kandidat ketua kelas. Yang jelas, ia tidak begitu senang dengan posisi ini awalnya. 

Berhenti disini ? tidak. 

Habib menyarankan supaya kita punya posisi – posisi lain. Misalnya : seksi acara. Karena disekolah ada program muhadharah *semacam festival pidato gitu, seminggu sekali* dan muhadharahnya perkelas, seksi acara bertugas menentukan apa saja yang akan kita lakukan di acara muhadharah ini. intinya seksi acara itu bertanggung jawab menentukan ini itu ketika kelas kita ada acara.

Ada juga pubdok alias publikasi dokumentasi, peyorasinya : mang mang poto. Tugasnya ya mendokumentasikan semua event di kelas. Padahal sekalian aja tiap hari bawa kamera, ya kan.

Ada juga Sarana dan pra-sarana. Karena Asih Putera adalah rumah kedua *ceilah* kita harus menganggap kelas ini adalah rumah kan ? nah untuk membuat rumah nyaman, diperlukan perabotan yang tepat guna. Terpilihlah Aji dan Sule sebagai sarana prasarana. 

Kalau Sule, dia sudah berpengalaman menjadi sarana prasarana dari dulu. Tiga tahun aku sekelas sama Sule, tiga tahun pula aku menyaksikan dia bawa segala benda ke kelas yang membantu *banget* kelancaran kehidupan berkelas tangga. Di tahun pertama, aku ingat dia pernah bawa TV ke kelas. Engga TV juga sih. Itu jadi monitor komputer yang entah bagaimana teronggok begitu saja dikelas, lalu sama Sule di reparasi *baca di sulap* tau – tau itu benda bisa menangkap TV Channels. Di tahun kedua dia bawa kipas angin karena gazebo itu panas banget kalo dipake belajar siang siang dan dia dengan baik hatinya bawa terminal listrik supaya kalau hari senin dan jumat orang – orang ga rebutan mau make soket listrik buat ngecas. And apa yang akan dibawanya pada tahun ketiga, we were looking forward for that. 

Sementara Aji, tugasnya bawa laptop. Dan jangan salah, bawa laptop aja itu udah berat *seriously* rata – rata berat laptop itu dua kilo, harus dibawa kemanapun kita pindah kelas, yang artinya meskipun jam pertama itu di lantai tiga dan jam kedua itu di lantai lima.. yah.. selamat aja. Belum lagi bawa chargernya. Huah segala macem deh. Sayangnya laptop aji rusak ditengah – tengah tahun. 

Dan posisi terakhir yang ditentukan hari itu adalah KK alias Kamus Kelas. Pemegang jabatan ini harus rela menjadi translator bahasa inggris kelas kapanpun dan dimanapun. Dan terpilihlah saya untuk jadi sang translator. Bertugaslah saya selama setahun itu itu mengtranslate segala macem. Mulai dari self-introduction sampai tugas bahasa inggris. 

Posisi lainnya pun menanti. Bakal ada yang jadi rohis (yang tugasnya mimpin doa), bakal ada pula yang jadi sekuriti (meskipun ga jelas apa yang perlu dijaga), sampai koki kelas. Segala macem, Orangtua *baca: wali kelas dan mentor* kita sampai speechless begitu mendengar segala macam jabatan ini.

Entah karena memang kelas 12 itu sibuk sama pelajaran yang nggak selesai – selesai atau apa, atau karena emang kelas 12 itu Cuma fokus pelajaran, selain sekretaris dan bendahara, sebutan – sebutan ini pun hilang dibawa waktu. Mereka masih bertugas seperti itu sebenarnya, tapi tidak ada yang sadar. Misalnya : waktu liburan kelas di villa ijey, Asa yang ngatur jalannya acara dan Habib yang bawa kamera dan poto – poto, yah itu bisa jadi karena Asa adalah seksi acara dan Habib adalah seksi publikasi dokumentasi. Tapi no one realize that much, i think
.
Yeah, in the end, i ended that day happily. No more upset  and i was really looking forward for that year. 

The Athletic Class and Zombie-Class Status






Engga tau emang AvoPids itu isinya kebanyakan atlet amatiran (baca : seneng lari – lari) dan beberapa atlet futsal profesional, atau karena wali kelasnya adalah Profesor Olahraga satu – satunya di MA Asih Putera, AvoPids bisa dibilang sebagai : Athletic Class. 

Di semester pertama, planning kita kalau kelas selesai sebelum waktunya adalah : bajak lapangan. Jadi kadang ada beberapa pelajaran di akhir hari yang selesai sebelum bel. Meskipun kita udah kelas 12 dan mau ujian, bukannya menggunakan sisa sepuluh menit itu untuk belajar, kami semua langsung berlari ke lapangan untuk main futsal. KAMI SEMUA. 

Meskipun in the end ga semuanya main, tapi semuanya terlibat dalam acara ini. kalau nggak jadi pemain, ya diem di depan admin dan nontonin mereka semua main. Dan nonton pun udah bikin ketawa nggak ada akhir.

Karena semuanya main, boys and girls, aturannya sedikit di modifikasi. Dan cowo – cowo yang kebagian ga asiknya. Yah, habisnya kan mereka cowok. Misalnya : cewe boleh lari, cowok Cuma boleh jalan. Atau cowok harus jalan mundur. Futsal modifikasi. Dan ini selalu berakhir sangat lucu. My recommendation : try this futsal. Its really fun ngeliatin ikhwan ga bisa lari sekalipun udah didepan gawang, meskipun greget ngeliatan akhwat yang main futsal sambil jerit – jerit dan easy to distract. Segala macem dah. 

Sayangnya, kejadian ini kalau diceritakan pake kata – kata suka kurang lucu. Kalau disaksikan secara live, itu baru rame. Misalnya waktu Maruf handball. Alias seseorang nendang bola dan kena tangan Maruf yang lagi melambai – lambai minta bola. Itu sekelas langsung ambruk karena ketawa sementara maruf melambai – lambai sendirian. Kalau disaksikan dari bangku penonton, itu pemandangan cantik kali rupanya. Semua orang dilapangan ambruk kecuali Maruf. 

Ada pula perjuangan Duduluran Cup. Ini tuh semacam pertandingan futsal antar kelas. Dibagi antara akhwat sama ikhwan. Tiap kali mau duduluran cup, sekelas langsung ricuh : “inget ya hari ini tanding.” “guys jangan makan dulu sebelum tanding.” “guys semangat ya !!” atau seringkali kita duduk untuk melakukan rapat strategi. Terutama kalau akhwat yang main. Managernya adalah bapak Inqi, Bapak Habib, dan bapak Hebron. 

Tapi bapak Hebron seringkali jadi wasit, jadinya harus stay neutral. Tiap ada jadwal akhwat main, Inqi langsung koar – koar : “ya, Ichan kamu jadi back.. ya Lala Hilma nanti kamu nyerang.. Sanra.. jadi kiper oke ?!” sementara yang lain sibuk nyemangatin “ayo guys, kamu bisa.” “Semangat guys.” “pake celana olahraga ga? Nih tukeran dulu sama aku.” Huah segala macem deh. Yang lucu itu kalau misalnya gawang kita udah kebobolan, para manager dan pelatih langsung ricuh : “iya nggak apa –apa. udah tenang – tenang ! semangat kalian bisa ! nggak apa – apa !” 

In the end, tim Ikhwan IPA 1 menang sebagai juara 1 dan tim akhwat IPA 1 menang sebagai juara 2. And the question is : mana hadiahnya ? 

Selain jadi kelas athletic, sering juga kami menamai diri sebagai kelas Walkers alias kelas para Zombie. Dan saya mengaku bersalah sebagai terdakwa atas kejahatan ini *kalau ini disebut dengan kejahatan* 

Jadi waktu hari itu, saya ngajakin sekelas untuk nonton The Walking Dead Series. Karena ini emang kelewat rame banget. Tidak memperhatikan status kami yang waktu itu kelas 12 dan mau ujian, nontonlah kami semua. 

Kalo kami di lantai tiga dan pelajaran hari itu ga ada gurunya, kita langsung kunci pintu, tarik layar proyektor, nyalain proyektor, dan sambungin laptop ke proyektor. Dan nontonlah kita itu Walking Dead. Awalnya sih Cuma kalo engga ada pelajaran doang. Eh akhirnya ternyata tiap istirahat, sebelum pelajaran, seringkali ada suara “rrgh.. aagh. Grggh” alias geraman Zombie dari belakang kelas. Penikmat utama film ini adalah Hebron, Inqi, Hilma, dan Andri. Mau itu episode ga ada subtitlenya, mau itu episode ga begitu rame, nonton teruslah mereka. Untung walking dead keluarnya ga sering – sering. Jadi nontonnya ga berkelanjutan. 

Selain Walking Dead, nonton pula lah kami banyak movie dengan menggunakan proyektor atau laptop. Pernah maraton nonton Taken. Hari pertama nonton Taken I, hari kedua nonton Taken II. 

The Wandering Pak Dosen
Waktu semester dua, kayaknya semua orang langsung tersadar kalau kita udah deket. Banget. Sama ujian. Ibaratnya selama semester 1 mereka tidur, dan masuk semester dua disiram pake air es. Entah karena kaget udah tiba – tiba bakal masuk parade ujian atau karena emang insting sebagai kelas 12nya terbangun, tiba – tiba semua jadi belajar *yah kalau nggak mau dibilang rajin belajar*. Tidak ada lagi kisah tidur dikelas, meskipun kisah nonton dikelas kalau pelajaran udah selesai sering terjadi sekali – kali. Tapi mendadak buku latihan ada dimana – mana. Kertas corat – coret rumus tersebar di buku manapun. Ketika buku modul hadir, buku modul itu ada dimana – mana *haha iya da semua orang punya*. Buku itu sering banget dibuka dan sering banget kita nemuin anak – anak sedang sibuk dengan modulnya. Meskipun kadang – kadang modul itu juga jadi bantal tidur. 

Event belajar tiba – tiba berterbaran di kalender. Kalau hari Sabtu Minggu biasanya orang – orang liburan, semester ini orang – orang sibuk bikin kegiatan belajar bareng. Dan ada satu orang yang entah dia emang pasrah atau kelewat altruis, bersedia kesana kemari untuk jadi pengajar. Ia mengelana dari satu kelompok lain ke kelompok lain. Seringkali dia masih dikelompok satu dan kelompok lain udah teriak – teriak manggil dirinya. We called him Pak Dosen. Karena segala macem dia bisa. Seringkali kalau kelas ekstra matematika, Pak Dosen ini yang ngajar kelas Upper Advanced. Sementara kelas Beginner dibelajarin sama Salma. Tapi sering kali pakdosen ini mampir juga ke kelas beginner dan ngajarin kelas Beginner. Ngajar tanpa akhir. 

Lalu suatu hari, our very mother, Bu Erika, berinisiatif untuk membentuk kelompok belajar. Dengan masters di tiap kelompoknya. Jadi di satu kelompok itu ada yang pinter pelajaran ini, ada yang pinter pelajaran ini, jadi mereka bertanggung jawab untuk mengajari kelompoknya pelajaran yang mereka emang master disitu. 

Dan ketika pembagian kelompok itu, Ijey, our pakdosen, disimpan di akhir. Ketika semua orang udah punya kelompok, tinggal Ijey yang belum. Semua kelompok langsung ricuh ngerebutin beliau. And that is the point of the story. How orang - - orang ngerebutin beliau itu kelewat funny. Habib dan Aji berantem didepan, Aji berdiri didepan kayak salesman ngenyebutin keunggulan – keunggulan yang akan Ijey dapatkan kalau masuk ke kelompoknya, segala macem. In the end, beliau akhirnya akan wandering dari satu kelompok ke kelompok lain. And at that time, i just wondering how could he survive that way.
Yah tapi pada akhirnya, engga ada kelompok – kelompokan. Semua lari ke Ijey. Seringkali ia sedang ngajarin satu pelajaran, orang – orang lapor padanya untuk nanyain pelajaran lain. Dan beliau dengan sabar ngeladenin semuanya, dan masih nraktir gorengan pula hahah *free gorengan kalau belajar sama ijey* 

 Our  Very First Class Outing !




Time flows, and so does ujian. Tau – tau parade ujian selesai – pengennya sih lempar toga kalau udah kayak gini. Tapi pertama, kita bukan lulus tapi selesai ujian, kedua kita nggak punya toga. Akhirnya diputuskanlah untuk liburan bareng – 

Karena udah menjelang ulangtahun Naila, orang – orang pada ngedorong Naila untuk nyewa villa. Bercanda sih. Hahah. Tapi tau – tau beneran deh kita dikasih villa. Tapi bukan villa Naila.. 













To be continued 

upcoming title : 
Our Very Last Event
Coloring Day 

ps : ga nyambung pictures dan ceritanya -- yah nyambunglah sedikit