Re-read : Harry Potter and The Sorcerer Stone




I love Harry Potter movies. So much. I even cried when i know kalau this series will come to an end. Tapi sesungguhnya, saya tak pernah membaca bukunya, tidak sampai saya SMA.
Iya sih itu udah telat banget. Kebangetan. Dan semua orang juga tahu : nggak akan asik kalo Cuma nonton film Harry Potter aja. Kalau nonton aja dan nggak baca bukunya, itu ibarat kayak lebaran tanpa rendang *iya oke. Skip* 

Tapi saya tak menyesal baca harry potter series ketika saya sudah uzur *?* mengapa oh mengapa, karena pada usia SMA english saya sudah capable untuk membantu saya melahap Harry Potter series dalam bahasa aslinya

Seriously, nothing beat membaca harry potter dalam bahasa aslinya, bahasa inggris. Rasanya lebih real, lebih nyata. Not that i not enjoyed harry potter series dalam bahasa indonesia. Itu juga saya suka, tapi membaca harry potter dalam bahasa aslinya punya feel dan pride tersendiri. 

Anyway oh anyway itu sudah lama sekali terjadi. Mungkin waktu saya kelas 11. Itu lagi euforia Harry Potter banget. Lagi heboh – hebohnya series potter akan berakhir. Akhirnya sesuatu mendorong saya untuk membaca ini series. 

Jadi dalam waktu sebulan, saya tamatkan itu harry potter series, tujuh – tujuhnya saya baca sampai puyang. Tak peduli bahwa itu sebenarnya dua bulan menjelang ujian – my record adalah Harry Potter and The Deathly Hallows yang niat banget saya habiskan dalam waktu semalam *cough uh*. Ga semalam juga sih – i remember saya mulai baca around 8, dan baru tidur jam setengah tujuh pagi. Dan malam harinya, saya ulang lagi Deathly Hallows begitu sadar habis itu ga ada lagi Harry Potter yang bisa saya baca. Dan sekedar baca : All was well, itu mencelos banget dihati. Semua kematian, semua peristiwa, semua sihir, semua penyiksaan, semua kekeluargaan, semua cinta *well seriously, Potter series berintikan : cinta* itu hanya ditutup dengan tiga kata : All was well. 

Well then sekarang bulan Ramadhan, dan tiap ramadhan dalam hidup saya selalu tersedia waktu kosong 30 menit terakhir menjelang buka puasa. Dont know how but it just happenned each year. Dan this year, i decided kalau 30 menit itu akan menyenangkan kalau saya spend untuk re-read harry potter series *iya bukannya baca quran* 

Jadi saya buka lagi Harry Potter and The Sorcerer Stones. Dan menjelang beberapa halaman terakhir, saya baru kepikiran untuk menulis tentang pengalaman saya membaca Harry Potter series *sigh* 

Intinya, meskipun HP pertama terbit 14 tahun yang lalu, meskipun saya sudah membaca HP 1 berkali – kali, tetap aja feelingnya sama. 

Kesel ga ketulungan sama keluarga Dursley, degdegan waktu Harry dan Malfoy nemu jenazah unicorn, excited waktu Harry dapat snitch.. semuanya masih sama. I think itulah keajaiban dari JK Rowling. 

Anyway, i want to share some of my favorite quotes and favorite moments from the book that doesnt made it to the movie. Tapi karena saya baru kepikiran mau menulis tentang my Harry Potter reading experience ketika sudah sampai di halaman – halaman terakhir, saya hanya bisa menuliskan beberapa. 

Goyle, who was almost as stupid as he was mean, might be thrown out, but he had passed, too. It was a shame, but as Ron said, you couldnt have everything in life – Harry on final exam results 

You know, the Stone was really not such a wonderful thing. As much money and life as you could want! The two things most human beings would choose above all – the troble is, humans do have a knack of choosing precisely those things that are worst for them ----- Dumbledore to Harry 

And i have to say, after re-reading harry potter, my respect towards Nicolas and Perenelle Flamel boost up. I mean, mungkin Flamel hanya sekedar nama di film, tapi di buku, meskipun ia hanya disebut kurang dari 10x, tapi amazement yang diciptakan gara – gara kata – kata Dumbledore kalau Flamel akan merelakan hancurnya batu itu, its really something. After all, not everyone will letting go extra 600 yrs life easily. 

My favorite moments that i will loved if it make to the movie.. hmhmhm.. well.. ketika Severus Snape jadi wasit Quidditch antara Hufflepuff dan Gryffindor – yeah mungkin di adegan itu akan keliatan banget nastynya Snape – but who doesnt want to see Severus Snape on the broom ? – 

And momen di awal ketika Dumbledore makan permen lemon dan menawarkannya pada McGonaggal. Iya, iya ,mungkin itu sederhana. But i really want to see Dumbledore eating lemon drops

Well now i’m on book two – dan sekarang aku lagi merasakan kebencian yang teramat dalam terhadap Gilderoy Lockhart. – dia menyebalkan dalam movie, tapi dia dua juta kali lebih menyebalkan di buku – i mean, seriously, kenapa dia confident sekali soal keberadaannya yang dia anggap menguntungkan orang – orang disekitarnya – hah seriously. 

  

0 comments:

Post a Comment